Hi, salam hangatku untukmu, kamu yang hingga saat ini membuatku penasaran.
Bolehkah
aku bertanya padamu? Ada banyak sekali pertanyaan yang berseliweran di
otakku, jadi untuk apa kamu datang dalam kehidupanku? Sekedar singgah
atau hanya ingin bermain-main denganku atau bahkan untuk menyakitiku?
Untuk apa? Apa kamu akan pergi atau tinggal selamanya dihatiku? Apakah
kamu pernah memikirkan bagaimana perasaanku padamu? Apa kamu benar tak
peduli denganku? Apa kamu tau, malam ini juga malam-malam sebelumnya aku
susah tidur karena memikirkanmu? Ribuan pertanyaan tentang kamu lah
yang membuat mata ini sulit sekali terpejam.
Kehadiranmu
yang tak pernah sedikitpun aku tau maksud dan tujuannya, telah
membuatku kembali merasakan kenyamanan yang selalu kurindukan. Aku tidak bilang bahwa aku telah
jatuh hati padamu, karena aku pun tidak tahu bagaimana perasaanku yang
sebenarnya, yang jelas aku tidak pernah menginginkan kamu pergi dariku.
Tak perduli betapa aku setiap hari bersusah payah mengendalikan perasaan
ini, aku berusaha menikmatinya. Aku tau semua yang telah terjadi sejauh ini telah tercatat dan aku yakin rencana Tuhan itu menakjubkan. Oleh karenanya, aku selalu berfikir positif akan maksud kehadiranmu.
Aku
tidak akan menggenggammu seperti apa yang pernah aku lakukan dulu padanya, aku
akan membiarkan semua ini mengalir begitu saja. Aku tidak memaksamu
agar kamu menjadi milikku, aku tidak mau membiarkan egoku membara.
Sekali lagi, aku berusaha mengendalikan perasaanku. Setidaknya sampai
aku tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku tidak mau menjadikanmu
ambisiku, percayalah entah bagaimana nanti Tuhan akan mentakdirkan
kita, itu yang terbaik.
Aku
minta padamu, tetaplah jadi yang seperti sekarang, tetap ada untukku.
Tapi, kalau kamu benar-benar sudah merasa 'muak' denganku, kamu boleh berhenti,
berfikir, dan membuat keputusan apa yang akan kamu lakukan padaku. Aku
tidak akan memaksamu. Pergilah jika memang itu keputusanmu. Pergilah kemanapun kamu mau, mungkin memang itu yang sudah digariskan oleh Tuhan. Aku menyayangimu sebagaimana aku takut
kehilanganmu. Apapun yang terjadi nanti, aku akan berterimakasih pada
Tuhan karena telah menuliskan skenario untukku mengenalmu.
With love,
YAS
